Mirip Kasus Indonesia, Thailand di Ambang Pembekuan oleh FIFA

Daftar Isi
Deputi Perdana Menteri Thailand Prawit Wongsuwan (kiri) diduga kuat intervensi terhadap FAT yang memaksa presidennya, Somyot Poompanmoung (kanan), mundur. Thailand kini terancam sanksi FIFA. (FATHAILAND.ORG)


Pengunduran diri Somyot Poompanmoung dari posisi presiden Asosiasi Sepak Bola Thailand (Football Association of Thailand/FAT) berbuntut panjang.

Negeri Pagoda Emas itu kini terancam sanksi FIFA.

Pasalnya, peletakan jabatan itu terjadi karena tekanan dari pihak lain yang lebih tinggi secara struktural.

Somyot mundur karena intervensi dari Komite Olimpiade Nasional Thailand yang diketuai Prawit Wongsuwan.

Prawit adalah juga Deputi Perdana Menteri Thailand saat ini.

Dia merupakan figur sangat berpengaruh di negeri itu.

Beberapa jabatan sangat penting pernah diembannya seperti Commander in Chief of the Royal Thai Army, yang memimpin tentara Kerajaan Thailand.

Semua media Thailand menganalisis peristiwa mundurnya Somyot ini sangat erat dengan campur tangan penguasa.

Rakyat Thailand diingatkan bahwa negerinya kini sangat terancam hukuman atau penalti dari FIFA.

Penguasa atau pemerintah Thailand tak belajar dari kasus yang menimpa Indonesia dan Kuwait beberapa tahun lalu.

Indonesia dijatuhi sanksi berat oleh FIFA pada 30 Mei 2015.

Ada tiga poin dari FIFA terkait sanksi itu, yakni, pertama, FIFA mencabut keanggotaan PSSI sebagai federasi sepak bola Indonesia.

Kemudian, FIFA melarang Timnas Indonesia mulai dari senior hingga kelompok umur, termasuk klub Tanah Air, mengikuti kompetisi internasional di bawah naungan FIFA dan AFC.

Terakhir, semua anggota dan ofisial PSSI dilarang mengikuti program pengembangan, kursus, atau latihan dari FIFA dan AFC.

Indonesia dijatuhi sanksi oleh FIFA setelah Kemenpora membekukan PSSI pada 17 April 2015 karena tak mengindahkan imbauan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) terkait penyelenggaraan Liga Indonesia 2015.

Kala itu, BOPI memerintahkan PSSI pimpinan Djohar Arifin menindak Arema Cronus dan Persebaya Surabaya karena kepemilikan atau kepengurusan ganda.

Menurut BOPI, Arema dan Persebaya saat itu tak layak mengikuti Liga Indonesia 2015.

Akan tetapi, instruksi itu tak digubris PSSI, bahkan tetap memasukkan Arema dan Persebaya ke dalam daftar tim peserta Liga Indonesia 2015.

Liga Indonesia 2015 sempat bergulir dua pekan sejak 4 April 2020, lalu ditunda pada 12 April hingga dibubarkan.

PSSI tetap menggelar Kongres Luar Biasa sehari setelah dibekukan Kemenpora, yang menghasilkan La Nyalla Mattalitti sebagai ketua umum baru.

Sepanjang pembekuan PSSI dan Indonesia mendapat sanksi FIFA, tak ada kompetisi resmi yang bergulir.

Untuk mengisi kekosongan, pihak swasta menggelar Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman.

Maraknya protes dari berbagai pihak, mulai dari pengelola klub, pemain, perangkat pertandingan, suporter, hingga pelaku ekonomi memaksa Kemenpora mencabut SK pembekuan PSSI pada 10 Mei 2016.

Tiga hari kemudian, FIFA juga mencabut sanksinya melalui kongres ke-66 di Meksiko yang disampaikan langsung oleh Gianni Infantino.

Kini, seluruh pencinta sepak bola Thailand berharap-harap cemas.

Media Matichon menulis, "Pengunduran diri presiden FAT atas perintah badan lain dapat menyebabkan FIFA menjatuhkan sanksi terhadap Thailand. Sebab, ini dinilai sebagai tindakan campur tangan badan pemerintah dalam pekerjaan asosiasi sepak bola."

Thairath, media lain di Thailand, mengutip Pasal 19 Peraturan FIFA yang menetapkan independensi asosiasi sepak bola dan dewan direksinya.

Jadi, sebut Thairath, "Sangat mungkin FAT terkena sanksi FIFA."

Media Thailand berpendapat, kejadian di negerinya itu sangat mirip dengan apa yang dialami Indonesia pada 2015.

Situasi sepak bola Thailand saat ini cukup membingungkan.

FAT akan melaporkan kasus itu ke AFF, AFC, FIFA tentang perubahan yang tak terduga.

Pada saat yang sama, FAT memiliki waktu 90 hari untuk memilih pimpinan baru setelah Somyot mundur.


Posting Komentar